Senin, 05 Desember 2011

Mendapat Nilai memuaskan

                     Seperti kehidupan pada saat kita bersekolah atau kuliah, agar kita mendapatkan nilai yang memuaskan kita harus menguasai ilmunya dengan sungguh-sungguh sehingga sewaktu-waktu mendapatkan ujian kita siap menjawabnya. Begitu pula dalam berhubungan dengan Allah, sewaktu-waktu kita diuji oleh Allah, dengan berbekal ilmu kita pasti akan mampu menghadapi ujian, lulus, dan mendapatkan nilai yang memuaskan. Apa ilmu yang harus kita persiapkan? Ilmu tentang hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia.
Ilmu hubungan dengan manusia adalah kita mampu melaksanakan berbuat bermanfaat buat pribadi kita, sesama, secara lahir dan batin. Sedangkan ilmu hubungan dengan Allahnya adalah mampu melaksanakan niat hanya karena Allah, dengan mampu melaksanakan sadar, tabah, dan sabar. Berbekal inilah maka dalam menjalani ujian Allah kita akan mampu ikhlas dengan nilai yang memuaskan.
Jika segala tindakan kita hanya menggunakan ilmu hubungan manusia saja maka secara kasat mata tampak baik akan tetapi belum benar. Mengapa demikian? Karena perbuatan kebaikan yang dilandasi dengan niat hanya karena manusia bagaikan seseorang menanam padi, semakin banyak menanam semakin mundur. Kita hanya dapat secara hubungan manusianya saja seperti dihormati manusia, disanjung, dipuji. Hal-hal inilah yang akan mempertebal nafsu kita sehingga mengakibatkan kita menjadi manusia yang takabur. Selain itu, secara hubungan dengan Allahnya kita tidak mendapatkan apa-apa. Dengan demikian perbuatan kebaikan yang ditanamkan akan menjadikan hubungan dengan Allah kita semakin jauh.
Selama ini manusia mempunyai persepsi bahwa untuk niat hanya karena Allah cukup diucapkan di bibir saja. Padahal niat hanya karena Allah inilah justru yang menentukan diterima dan tidaknya ibadah kita. Sedangkan untuk mampu melaksanakan niat hanya karena Allah kita harus mampu melaksanakan ikhlas dengan nilai minimal 7,5. Ikhlas dengan nilai tersebut tentu harus diuji dulu.
Dalam menghadapi ujian untuk mendapatkan nilai tersebut, kita harus mau meyakini bahwa semua ujian Allah yang membuatnya dan hanya Allahlah yang mampu memberi jawabnya secara benar. Setelah kita meyakininya maka sewaktu-waktu kita diuji, kita mampu untuk selalu kembali ke Subyek.
Selama ini kita hanya mampu mengucapkan saja bahwa semuanya dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Begitu pula saat kita salat selalu berikrar kepada Allah dengan mengucapkan: "Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya karena Allah semata, Tuhan seru sekalian alam”. Akan tetapi, begitu diuji dengan hilangnya sedikit harta yang kita miliki saja sudah berkeluh kesah, yang artinya tidak mampu menerimanya dengan ikhlas. Kembali ke Subyek merupakan kunci untuk mampu menjalani ikhlas dengan nilai yang memuaskan. Caranya? Ada di seri Ayat-ayat Allah yang Tersirat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar